mana datangnya, tentu saja dari Allah yang selalu menjaga kesucian masjid tersebut. Selain berziarah ke makam Rasulullah, rombongan kami juga berkesempatan ke makam para syuhada di dekat masjid Nabawi yaitu makam Baqi', kemudian berziarah ke makam para syuhada perang Uhud, berwisata ke kebun kurma, dan bumi magnet. Bumi magnet ini sangat unik dan menarik, karena tanpa digas, bus kami bisa berjalan sendiri dengan kecepatan 120 km/jam. Menurut tour leader kami, di Indonesia pun sebenarnya juga ada.
Rombongan kami berada di Madinah selama 4 hari, mulai hari Selasa - Jum'at. Pada hari kamis, ada pemandangan yang tidak saya temukan di kampung halaman, yakni tradisi puasa senin kamis, sehingga pada hari kamis, menjelang maghrib ada perjamuan kurma dan minuman zam-zam buat para jama'ah yang menjalankan ibadah puasa tak terkecuali yang tidak berpuasa juga, saya pun turut mencicipi kurmanya :D. Saya bersyukur bisa merasakan sholat jum'at di masjid Nabawi.
Pada jum'at siang, selesai sholat jum'at kami bersiap menuju Makkah dan mengambil miqat di Bir Ali. Tentunya kami menuju Makkah sudah mengenakan baju ihram. Sesampainya di Makkah, kami segera melakukan umroh wajib. Subhanallah, berkat izin Allah saya mendapat kesempatan melihat ka'bah, yang selama ini menjadi kiblat bagi umat muslim sedunia. Di dalam towaf, saya selalu melihat ka'bah itu, tidak bisa berhenti menangis, karena rasa bahagia yang diberikan Allah kepada saya. Dalam sa'i, saya membayangkan betapa hebatnya dulu Siti Hajar saat itu, dan dialah ibu sekaligus istri yang luar biasa. Setelah selesai menunaikan umroh wajib, kami melakukan aktivitas seperti biasa. Hari ke dua di Makkah tidak ada program khusus, jadi saya manfaatkan untuk berjalan-jalan ke pasar dan pertokoan bersama saudara-saudara saya yang lain untuk membeli oleh-oleh buat keluarga di rumah.
Pada saat di Mekkah, calon istri saya (sekarang telah resmi menjadi istri) kehilangan koper yang didalamnya terdapat baju pengantin yang akan dikenakannya di hari pernikahan kami. Tak hanya diri saya yang sedih, selain istri, bapak mertua saya juga sedih. Kultur jawa selalu berfirasat jika ada kejadian seperti ini, ada pertanda yang tidak baik. Entah pertanda apa itu? Bapak mertua sempat berucap "Mbok ojo anakku sing digawe gelo, yen nggawe gelo mbok aku wae". Tahu apa akibatnya? Sepulang dari sholat subuh, kebetulan saya bersama beliau, dan beliau bilang kalau dompetnya hilang, padahal didalamnya ada 2 buah kartu ATM, surat-surat, dan KTP. Masya Allah, Ada apa lagi ini? Tapi ternyata dompet yang hilang itu menukar koper yang hilang tadi. Koper yang hilang itu telah diketemukan. Ternyata waktu keberangkatan dari Madinah menuju Makkah, koper tersebut masuk ke bus lain. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Ada sebuah hikmah dan pelajaran dari kejadian ini. Saya berharap esok hari bisa melihat calon istri saya mengenakan gaun pengantin yang sempat hilang itu.
Gus Mus (baca: KH. Achmad Mustofa Bisri - Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang), seorang kyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim yang sering kita lihat di televisi. Waktu mau mengucapkan ikrar janji suci, saya ditantang Gus Mus, "Piye, arep nganggo boso jowo, boso Indonesia, boso inggris, opo boso arab?", Pilih yang gampang aja lah, saya menjawab "Bahasa Indonesia saja" . Meskipun sebenarnya saya sudah menyiapkan dalam bahasa yang lain, tapi saya mantap pakai bahasa Indonesia :). Di dalam rangkaian prosesi pernikahan ada tiga kyai yang mengisi acara sakral tersebut. KH Tarmudji, beliau melantunkan lantunan ayat suci Al Qur'an, selain seorang qari', dan beliau juga seorang muadzin di masjid agung semarang, sekaligus khotib di beberapa masjid di Semarang. Berikutnya adalah KH Shodiq Hamzah pimpinan pondok pesantren Shodiqqiyah Terboyo Semarang yang sebentar lagi akan diresmikan oleh Gus Dur. Beliau memberikan khotbah nikah. Kyai Shodiq juga pemandu rombongan umroh kami, dengan logat khas dan kejenakaannya, beliau penuh semangat memandu perjalanan umroh kami.
Setelah prosesi pernikahan selesai, rombongan kami menuju ke hotel untuk mengikuti walimatul 'urs. Saya beserta istri, memisahkan diri dari rombongan, karena sengaja mau mencari tempat buat berfoto mengabadikan kenangan indah itu. Sayangkan jika wajah sudah dipoles dan tidak diabadikan hehehe. Ternyata para rombongan yang mau walimatul 'urs pada mencari kami berdua, karena mau dido'ain oleh Gus Mus. Biasaaaa, pengantin baru sukanya yang aneh-aneh :D. Orang-orang asing yang juga melaksanakan umroh di sana juga tak lupa memberikan ucapan selamat kepada kami berdua, bahkan mereka meminta foto dengan kami, cieeee seperti artis baru aja neh.
Hari yang terakhir, kami melaksanakan towaf wada', dan alhamdulillah saya mendapat izin Allah untuk mencium Hajar Aswad, saya bisa menyentuhkan kaki saya di ka'abah, dan bisa berdiri di bawah pintu ka'bah dengan kaki menempel di batu ka'bah. Saya mendapat kemudahan untuk mencium Hajar Aswad berkat seorang ibu yang memberikan jalan kepada saya untuk menuju ke batu hitam itu. Di situ saya merasa kecil, tidak ada apa-apanya, saya merasa banyak berbuat dosa, dan sungguh, jika engkau merasakan sendiri, inilah keajaiban yang diberikan Allah. Maka bersyukurlah kamu yang berpegang teguh pada ajaran Allah. Pelajaran yang berharga yang saya petik adalah bahwa harta, kekuasaan, pangkat, dan jabatan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah, yang beda hanyalah taqwa. Maka, janganlah sikut sana sikut sini hanya untuk mendapatkan sebuah pangkat, ataupun jabatan apalagi sekocek uang, karena semua itu tidak akan memberikan keberkahan jika tidak didasari keimanan dan ketaqwaan.
Perjalanan pulang kami diajak berwisata terlebih dahulu ke Jeddah, pusat belanja murah yang
Semoga Allah mengijinkan dan memampukan kami untuk kembali ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji. Amin.
0 Komentar:
Posting Komentar
Feel free for giving me a feedback. Thank you.