Pada tanggal 31 Maret - 8 April 2009 kemarin, saya beserta ke-12 saudara (Bapak & Ibu mertua, Mas Bangun, Mas Cahyo & Mbak Dian, Mas Abi & Mbak Luki serta si kecil Syifa, istriku Indri Puspitaningtyas, Panji, Budhe Aunun, dan Ustadz Tarmudji) menjalankan ibadah umroh ke tanah suci. Sebuah momen yang luar biasa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya jika saya mendapatkan kesempatan untuk menjalankan ibadah umroh. Subhanallah walhamdulillah, akhirnya saya bisa melihat masjid Nabawi, sholat berjama'ah di sana, berziarah ke makam rasulullah, sentah mendapat kesempatan berdo'a di roudhoh yang kata orang tempat itu adalah tempat yang paling utama, karena setiap do'a kita akan dikabulkan oleh Allah. Di masjid Nabawi itu, saya menemukan pemandangan yang luar biasa, serta ketenangan dan kekhusyukkan hati yang juga luar biasa. Seakan ada kekuatan yang luar biasa yang entah dari
mana datangnya, tentu saja dari Allah yang selalu menjaga kesucian masjid tersebut. Selain berziarah ke makam Rasulullah, rombongan kami juga berkesempatan ke makam para syuhada di dekat masjid Nabawi yaitu makam Baqi', kemudian berziarah ke makam para syuhada perang Uhud, berwisata ke kebun kurma, dan bumi magnet. Bumi magnet ini sangat unik dan menarik, karena tanpa digas, bus kami bisa berjalan sendiri dengan kecepatan 120 km/jam. Menurut tour leader kami, di Indonesia pun sebenarnya juga ada. 

Rombongan kami berada di Madinah selama 4 hari, mulai hari Selasa - Jum'at. Pada hari kamis, ada pemandangan yang tidak saya temukan di kampung halaman, yakni tradisi puasa senin kamis, sehingga pada hari kamis, menjelang maghrib ada perjamuan kurma dan minuman zam-zam buat para jama'ah yang menjalankan ibadah puasa tak terkecuali yang tidak berpuasa juga, saya pun turut mencicipi kurmanya :D. Saya bersyukur bisa merasakan sholat jum'at di masjid Nabawi.

Pada jum'at siang, selesai sholat jum'at kami bersiap menuju Makkah dan mengambil miqat di Bir Ali. Tentunya kami menuju Makkah sudah mengenakan baju ihram. Sesampainya di Makkah, kami segera melakukan umroh wajib. Subhanallah, berkat izin Allah saya mendapat kesempatan melihat ka'bah, yang selama ini menjadi kiblat bagi umat muslim sedunia. Di dalam towaf, saya selalu melihat ka'bah itu, tidak bisa berhenti menangis, karena rasa bahagia yang diberikan Allah kepada saya. Dalam sa'i, saya membayangkan betapa hebatnya dulu Siti Hajar saat itu, dan dialah ibu sekaligus istri yang luar biasa. Setelah selesai menunaikan umroh wajib, kami melakukan aktivitas seperti biasa. Hari ke dua di Makkah tidak ada program khusus, jadi saya manfaatkan untuk berjalan-jalan ke pasar dan pertokoan bersama saudara-saudara saya yang lain untuk membeli oleh-oleh buat keluarga di rumah.

Pada saat di Mekkah, calon istri saya (sekarang telah resmi menjadi istri) kehilangan koper yang didalamnya terdapat baju pengantin yang akan dikenakannya di hari pernikahan kami. Tak hanya diri saya yang sedih, selain istri, bapak mertua saya juga sedih. Kultur jawa selalu berfirasat jika ada kejadian seperti ini, ada pertanda yang tidak baik. Entah pertanda apa itu? Bapak mertua sempat berucap "Mbok ojo anakku sing digawe gelo, yen nggawe gelo mbok aku wae". Tahu apa akibatnya? Sepulang dari sholat subuh, kebetulan saya bersama beliau, dan beliau bilang kalau dompetnya hilang, padahal didalamnya ada 2 buah kartu ATM, surat-surat, dan KTP. Masya Allah, Ada apa lagi ini? Tapi ternyata dompet yang hilang itu menukar koper yang hilang tadi. Koper yang hilang itu telah diketemukan. Ternyata waktu keberangkatan dari Madinah menuju Makkah, koper tersebut masuk ke bus lain. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Ada sebuah hikmah dan pelajaran dari kejadian ini. Saya berharap esok hari bisa melihat calon istri saya mengenakan gaun pengantin yang sempat hilang itu.

Tanggal 6 April 2009 pun tiba. Hari itu adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup saya. Pada hari itulah, saya dan kekasih pujaan hati mengikat janji suci untuk menjadi sepasang suami istri. Saya dinikahkah oleh
Gus Mus (baca: KH. Achmad Mustofa Bisri - Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang), seorang kyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim yang sering kita lihat di televisi. Waktu mau mengucapkan ikrar janji suci, saya ditantang Gus Mus, "Piye, arep nganggo boso jowo, boso Indonesia, boso inggris, opo boso arab?", Pilih yang gampang aja lah, saya menjawab "Bahasa Indonesia saja" . Meskipun sebenarnya saya sudah menyiapkan dalam bahasa yang lain, tapi saya mantap pakai bahasa Indonesia :). Di dalam rangkaian prosesi pernikahan ada tiga kyai yang mengisi acara sakral tersebut. KH Tarmudji, beliau melantunkan lantunan ayat suci Al Qur'an, selain seorang qari', dan beliau juga seorang muadzin di masjid agung semarang, sekaligus khotib di beberapa masjid di Semarang. Berikutnya adalah KH Shodiq Hamzah pimpinan pondok pesantren Shodiqqiyah Terboyo Semarang yang sebentar lagi akan diresmikan oleh Gus Dur. Beliau memberikan khotbah nikah. Kyai  Shodiq juga pemandu rombongan umroh kami, dengan logat khas dan kejenakaannya, beliau penuh semangat memandu perjalanan umroh kami.

Setelah prosesi pernikahan selesai, rombongan kami menuju ke hotel untuk mengikuti walimatul 'urs. Saya beserta istri, memisahkan diri dari rombongan, karena sengaja mau mencari tempat buat berfoto mengabadikan kenangan indah itu. Sayangkan jika wajah sudah dipoles dan tidak diabadikan hehehe. Ternyata para rombongan yang mau walimatul 'urs pada mencari kami berdua, karena mau dido'ain oleh Gus Mus. Biasaaaa, pengantin baru sukanya yang aneh-aneh :D. Orang-orang asing yang juga melaksanakan umroh di sana juga tak lupa memberikan ucapan selamat kepada kami berdua, bahkan mereka meminta foto dengan kami, cieeee seperti artis baru aja neh.
Hari berikutnya, kami berziarah ke Jabal Sur, Jabal Nur, Jabal Rahmah (tempat bertemunya Nabi Adam dan Hawa), melihat-lihat tenda-tenda pemukiman haji orang Indonesia, masjid Qiblatain, dan di dua hari yang berikutnya dilanjutkan dengan melaksanakan 2 kali umroh sunnah. Umroh sunnah yang pertama kami mengambil miqat di Jironah, dan yang kedua adalah di Masjid Tan'im. Umroh sunnah ini memperbolehlan kita untuk mengumrohkan sanak saudara yang sudah meninggal.

Hari yang terakhir, kami melaksanakan towaf wada', dan alhamdulillah saya mendapat izin Allah untuk mencium Hajar Aswad, saya bisa menyentuhkan kaki saya di ka'abah, dan bisa berdiri di bawah pintu ka'bah dengan kaki menempel di batu ka'bah. Saya mendapat kemudahan untuk mencium Hajar Aswad berkat seorang ibu yang memberikan jalan kepada saya untuk menuju ke batu hitam itu. Di situ saya merasa kecil, tidak ada apa-apanya, saya merasa banyak berbuat dosa, dan sungguh, jika engkau merasakan sendiri, inilah keajaiban yang diberikan Allah. Maka bersyukurlah kamu yang berpegang teguh pada ajaran Allah. Pelajaran yang berharga yang saya petik adalah bahwa harta, kekuasaan, pangkat, dan jabatan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah, yang beda hanyalah taqwa. Maka, janganlah sikut sana sikut sini hanya untuk mendapatkan sebuah pangkat, ataupun jabatan apalagi sekocek uang, karena semua itu tidak akan memberikan keberkahan jika tidak didasari keimanan dan ketaqwaan.

Perjalanan pulang kami diajak berwisata terlebih dahulu ke Jeddah, pusat belanja murah yang ternyata juga mahal :(. Di situ, kami bertemu teman Bapak mertua yang sudah menjadi warga negara arab, karena ikut suaminya yang bekerja di KBRI, kami memanggilnya Mbak Neneng, ditemani oleh anaknya. Kami sempat menikmati enaknya bakso "Mang Udin". Namanya memang mirip Indonesia karena pemiliknya memang asli Indonesia. Sehabis makan bakso, kami masuk ke toko Nur Murah dulu, membeli beberapa oleh-oleh, trus menuju mall, mencari tempat sholat untuk menjalankan sholat dzuhur. Perjalanan wisata kami berakhir di masjid terapung, masjid yang dibangun dipinggiran Laut Merah, selanjutnya kami menuju bandara Jeddah untuk menuju Jakarta. Selama perjalanan dari Jakarta - Madinah dan Jeddah - Jakarta, kami menggunakan pesawat Saudi Arabia Air Line, dan dari Jakarta - Semarang dan Semarang - Jakarta, kami menggunakan pesawat Garuda. Kami sampai di Semarang jam 18.00 WIB. Saya bersyukur bisa sampai ke rumah dengan selamat, dan saya bersyukur surat-surat Bapak yang hilang bisa segera diurus. Terima kasih Bapak & Ibu mertua, yang sudah memberi saya banyak pelajaran berharga, yang tidak bisa saya lupakan. Terima kasih untuk Bapak & emak yang selalu mendoakan saya dari Kudus, terima kasih untuk semua saudara kandungku dan saudara-saudara dari istriku. Alhamdulillah ya Allah.

Semoga Allah mengijinkan dan memampukan kami untuk kembali ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji. Amin.