Pernahkah para netter mania merasa gerah dengan banyaknya baleho besar di setiap sudut jalan, spanduk terbentang dimana-mana, dan stiker tertempel tak karuan di setiap dinding dan pohon-pohon? Emm, kalo ya berarti berarti sama seperti yang aku rasakan. Menjelang Pemilu 2009 ini nampaknya para calon legislatif mencoba memperkenalkan diri dengan cara yang tidak arif bijaksana tak peduli estetika kota. Kalau dikalkulasi kira-kira berapa uang yang mereka hamburkan untuk "berpose dijalanan", seolah meyakinkan kepada kita bahwa kelak jika mereka terpilih mereka akan mati-matian mendulang uang untuk menutup modal iklannya, yang akhirnya berujung pada tindakan korupsi. Sayang...sayang...seribu kali sayang.
Surat Buat Wakil Rakyat

(Iwan Fals Album Wakil Rakyat diliris pada tahun 1987 )


Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR

Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman-teman dekat
Apalagi sanak famili

Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Dikantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke

Saudara dipilih bukan di lotere
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he eh juara hahaha

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana di gedung DPR

Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”

Gossip Jalanan

(Slank Album Plur. Dirilis pada tahun 2004)

Pernah kah lo denger mafia judi
Katanya banyak uang suap polisi
Tentara jadi pengawal pribadi

Apa lo tau mafia narkoba
Keluar masuk jadi bandar di penjara
Terhukum mati tapi bisa ditunda

Siapa yang tau mafia selangkangan
Tempatnya lendir-lendir berceceran
Uang jutaan bisa dapat perawan
Kacau balau … Kacau balau negaraku ini …

Ada yang tau mafia peradilan
Tangan kanan hukum di kiri pidana
Dikasih uang habis perkara

Apa bener ada mafia pemilu
Entah gaptek apa manipulasi data
Ujungnya beli suara rakyat

Mau tau gak mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit

Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar
Pake peci tapi kelakuan barbar
Ngerusakin bar orang ditampar-tampar


Mungkin netter mania masih ingat lagu "Surat Buat Wakil Rakyat" yang dipopulerkan oleh Bang Iwan Fals, dan lagu "Gosip Jalanan" yang dinyanyikan oleh grup band kenamaan Slank, yang sempat membuat berang para wakil rakyat. Bisa jadi benar apa yang pernah disinyalir oleh Gus Dur ketika masih duduk di atas tahta RI 1 bahwa pola pikir para penghuni senayan yang terhormat itu selevel dengan anak-anak TK. Emosi gampang terpancing dan tidak konsisten. Nah, kalau sekarang mereka mungkin bak malaikat, gembor sana gembor sini, memelas meminta suara. Tapi apa yang mereka lakukan saat sudah bertahta disinggasana wakil rakyat, emmm cuma molor dan bengong, sok nelpon ga jelas.


Mana janjimu? Kalau sudah begini, kepada siapa lagi rakyat akan percaya? Masih perlukah kami memiliki wakil rakyat?