Pendahuluan
Abad teknologi dan informasi telah membawa perubahan yang besar di segala bidang termasuk didalamnya adalah bidang pendidikan. Perubahan ini hendaknya disikapi dengan bijak dan cerdas artinya upaya lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan teknologi dan informasi dalam sebuah pembelajaran diberikan secara proporsinal. Semua materi yang diperlukan dalam sebuah pembelajaran harus berorientasi pada perkembangan zaman dan masyarakat. Di dalam website http://pendidikan.tv, diungkapkan bahwa tanggung jawab sekolah dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam masyarakat yang sangat cepat perubahannya. Salah satu dari tantangan yang dihadapi oleh para mahasiswa adalah menjadi pekerja yang bermutu.
Menurut Soedijarto (1993:125) mengemukakan bahwa dalam menghadapi abad ke-21 ada tiga indikator utama dari hasil pendidikan yang bermutu dan tercermin dari kemampuan pribadi lulusannya, yaitu: (1) kemampuan untuk bertahan dalam kehidupan, (2) kemampuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan baik dalam segi sosial budaya dalam segi politik dalam segi ekonomi maupun dalam segi fisik biologis, dan (3) kemampuan untuk belajar terus pada pendidikan lanjutan. Sementara itu, Wardiman (1996:3) menyatakan bahwa pendidikan hendaknya dapat meningkatkan kreativitas, etos kerja dan wawasan keunggulan peserta didik. Dari dua pendapat tersebut nampaknya terdapat kesamaan misi dan visi yang didasarkan pada kenyataan bahwa dunia nyata yang akan dihadapi oleh para peserta didik penuh dengan persaingan. Oleh karena itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan yang cukup agar dapat bersaing di dunia kerja.
Mata kuliah database merupakan salah satu mata kuliah yang membekali mahasiswa tentang sebuah database yang digunakan untuk pengorganisasian data atau informasi dari suatu perusahaan atau institusi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih sedikit institusi baik swasta maupun pemerintah yang menangani pengelolaan data secara computerize. Mereka masih melakukan pendataan secara manual. Alasan yang muncul adalah tidak adanya program yang dapat digunakan untuk pengelolaan data atau informasi yang sesuai dengan format yang diinginkan institusi/perusahaan, kurang siapnya petugas yang mendosen si pengelolaan data untuk beralih ke program yang computerize, dan pembuatan/pemesanan software kepada programmer membutuhkan biaya yang mahal.
Mata kuliah database diberikan agar mahasiswa dapat memahami dan mengembangkan pola pikir sistemik serta mengimplementasikan database untuk memecahkan masalah-masalah kompleks yang berkenaan dengan masalah pengorganisasian data di setiap institusi ataupun perusahaan. Dengan implementasi pembelajaran berbantuan komputer diharapkan mahasiswa dapat dengan baik mengorganisasikan komputer dalam menangani kasus yang ada yang sering terjadi di sebuah institusi ataupun perusahaan. Hal ini diharapkan juga dapat memberi bekal keterampilan bagi mahasiswa, sehingga setelah lulus mereka tidak hanya memiliki kualitas akademik yang baik tetapi juga skill plus.
Mata kuliah database diberikan agar mahasiswa dapat memahami dan mengembangkan pola pikir sistemik serta mengimplementasikan database untuk memecahkan masalah-masalah kompleks yang berkenaan dengan masalah pengorganisasian data di setiap institusi ataupun perusahaan. Dengan implementasi pembelajaran berbantuan komputer diharapkan mahasiswa dapat dengan baik mengorganisasikan komputer dalam menangani kasus yang ada yang sering terjadi di sebuah institusi ataupun perusahaan. Hal ini diharapkan juga dapat memberi bekal keterampilan bagi mahasiswa, sehingga setelah lulus mereka tidak hanya memiliki kualitas akademik yang baik tetapi juga skill plus.
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut. Bagaimana mengembangkan model Problem Based Learning dan Computer Assisted Learning dengan pendekatan kontekstual melalui eksplorasi database sehingga dapat meningkatkan kecakapan berpikir rasional mahasiswa dalam pembelajaran database pada mata kuliah database. Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui implementasi pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dan pembelajaran berbantuan komputer (Computer Assisted Learning).
Untuk memperoleh jawaban atas permasalahan ini, dilakukan penelitian dengan pendekatan pre experimental design/quasi eksperiment. Berdasarkan hal tersebut maka rumusan masalah dapat diuraikan menjadi pernyataan-pernyataan berikut: persoalan/kasus yang seperti apa yang bisa digunakan untuk mengembangkan model Problem Based Learning dan Computer Assisted Learning dengan pendekatan kontekstual; sejauhmana efektivitas model Problem Based Learning dan Computer Assisted Learning yang dikembangkan dalam meningkatkan kemampuan berpikir rasional mahasiswa pada pembelajaran database.
Konsep Dasar Basis Data
Perkembangan teknologi database dan teknologi komputer terjadi secara beriringan. Perkembangan teknologi database membawa pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan komputer, hal ini dapat dilihat dari pemakaian database dalam pengelolaan data yang berjumlah besar untuk keperluan pendidikan, kesehatan, hukum, bisnis dan sebagainya.
Menurut Waljiyanto (2000) database dapat diartikan sebagai kumpulan data tentang suatu benda atau kejadian yang saling berhubungan satu sama lain. Sedangkan data merupakan fakta yang mewakili suatu objek seperti manusia, hewan, peristiwa, konsep, keadaan, dan sebagainya. Menurut George M. Scott (2004) database adalah sistem file komputer yang menggunakan cara pengorganisasian file tertentu, dimaksudkan untuk mempercepat pembaharuan masing-masing record, serta pembaharuan secara serempak atas record terkait, juga untuk mempermudah dan mempercepat akses terhadap seluruh record lewat program aplikasi, serta akses yang cepat terhadap data yang tersimpan yang harus digunakan secara bersama-sama untuk dibaca guna penyusunan laporan-laporan rutin atau khusus ataupun penyelidikan.
Pengorganisasian data memerlukan sebuah tool yang dikenal dengan istilah Sistem Manajemen database (Database Management System disingkat DBMS). DBMS adalah kumpulan program yang digunakan untuk membuat dan mengelola database (Waljiyanto, 2000). Menurut Soendoro H. dan Haryanto T. (2005). Tugas dari DBMS adalah sebagai berikut.
1. Mendefinisikan, melibatkan spesifikasi tipe data, struktur data, kendala (constraints) dari data yang akan diolah.
2. Membangun, berkaitan dengan proses penyimpanan data pada suatu media penyimpan yang dikontrol oleh DBMS.
3. Memanipulasi, termasuk didalamnya fungsi-fungsi sebagai “query” terhadap basis data, misalnya melakukan pengambilan data (retrieve), mengubah data (edit), dan membuat laporan (generate report).
Sistem Basis Data
Dalam pelaksanaan penyusunan data dengan komputer tidaklah harus menggunakan DBMS yang terjual dipasaran tetapi dapat juga menggunakan DBMS yang dibuat sendiri yang disesuaikan dengan tujuan khusus penyusunan basis data. Gabungan antara database dan perangkat lunak DBMS termasuk didalamnya program aplikasi yang dibuat dan bekerja dalam satu sistem disebut dengan Sistem Basis Data.
Keuntungan Pendekatan Basis Data
Keuntungan yang diperoleh dari pengorganisasian data dengan menggunakan basis data adalah sebagai berikut.
a. Mengendalikan redundasi atau data sering muncul. Data sering diakses dan muncul berulang-ulang, akan menyebabkan pemborosan resource.
b. Pembatasan akses. Tidak semua data dapat diaskes oleh sebarang user. Oleh karena itu perlu dibatasi sesuai dengan keterlibatan user tersebut terhadap database yang ada.
c. Tersedianya Multiple User Interfaces. Setiap modul dan interface akan disediakan berbeda-beda sesuai dengan spesifikasi dari user, sehingga modul dan interface dapat digunakan lebih efisien.
d. Tersedianya Backup dan Recovery. Isu penting dalam sistem database adalah Backup dan Recovery. Semua transaksi data harus dilakukan backup. Hal ini diperlukan jika database mengalami kerusakan. Dengan backup maka sistem dapat berlangsung dengan baik. Demikian juga recovery, jika terjadi kegagalan dalam melakukan transaksi, maka sistem dapat diperbaiki dan mengembalikan pada kondisi yang semula.
Di samping manfaat yang telah dipaparkan di atas, ada beberapa implikasi yang perlu diperhatikan dalam penggunaan DBMS. Bahwa dalam praktiknya penggunaan DBMS memerlukan biaya yang mahal, termasuk biaya pemeliharannya, dan penyediaan sumberdaya manusia untuk mengelola basis data; sistem database lebih kompleks; dan resiko data yang terpusat.
Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Model ini pertama kali dikembangkan pada tahun 2002 oleh seorang ahli pendidikan dari Amerika Serikat, Elaine B. Johnson. Model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan model pembelajaran yang mengaitkan antara materi dengan situasi dunia nyata.
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bertujuan membekali peserta didik dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat ditransfer dari suatu permasalahan ke permasalahan lain. Menurut Lee, transfer adalah kemampuan untuk berpikir dan berargumentasi tentang situasi baru melalui penggunaan pengetahuan awal (Nurkaromah, 2005). Perbedaan pola pembelajaran kontekstual dan tradisional disajikan dalam Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Perbedaan Pola Pembelajaran Kontekstual dan Tradisional
Pembelajaran Tradisional
|
Pembelajaran Kontekstual
|
Menyandarkan pada hafalan
|
Menyandarkan pada memori spasial
|
Pemilihan informasi ditentukan oleh pengajar
|
Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan individu siswa
|
Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu
|
Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin)
|
Memberikan tumpukan informasi kepada mahasiswa sampai pada saatnya diperlukan
|
Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan awal yangtelah dimiliki siswa
|
Penilaian hasil belajar hanya ditentukan melalui kegiatan akademik berupa ujian/ulangan
|
Menerapkan penilaian autentik melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah
|
Sumber: Rustana (dalam Nurkaromah, 2005)
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Menurut Moffit, pendekatan kontekstual dapat diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran berbasis masalah yaitu pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi mahasiswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah untuk memperoleh konsep atau pengetahuan yang esensial (Nurkaromah, 2005). Sedangkan menurut Amir (2005) Model pembelajaran berbasis masalah menyajikan masalah autentik dan bermakna sehingga mahasiswa dapat melakukan penyelidikan dan menemukan sendiri. Peranan dosen dalam model ini adalah mengajukan masalah, memfasilitasi penyelidikan dan interaksi siswa. Model pembelajaran ini berlandaskan psikologi kognitif dan pandangan konstruktif mengenai belajar. Model ini juga sesuai prinsip-prinsip CTL, yakni inquiri, konstruktivisme, dan menekankan pada berpikir tingkat lebih tinggi.
Pembelajaran berbasis masalah membantu mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan keterampilan intelektual, serta melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proses pembelajaran melalui pengalaman nyata atau simulasi sehingga mahasiswa dapat mandiri.
Tabel 2. Sintaksis Pembelajaran Berbasis Masalah
Fase
|
Indikator
|
Aktivitas Dosen
|
1.
|
Orientasi mahasiswa kepada masalah
|
Dosen menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi mahasiswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
|
2.
|
Mengorganisasikan mahasiswa untuk belajar
|
Dosen membantu mahasiswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
|
3.
|
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
|
Dosen mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
|
4.
|
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
|
Dosen membantu mahasiswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
|
5.
|
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
|
Dosen membantu mahasiswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
|
Sumber: Amir (2005)
Dari uraian di atas terlihat bahwa pembelajaran berbasis masalah melibatkan mahasiswa secara aktif. mahasiswa tidak menerima materi pelajaran semata-mata dari dosen , melainkan berusaha menggali dan mengeksplorasi sendiri. Diharapkan dengan pembelajaran berbasis masalah, mahasiswa akan termotivasi dan mengetahui kebermaknaan materi yang dipelajarinya.
Kecakapan Berpikir Rasional
Berpikir rasional merupakan jenis berpikir yang mampu memahami dan membentuk pendapat, mengambil keputusan sesuai dengan fakta dan premis, serta memecahkan masalah secara logis. Adapun tahap-tahap pemecahan masalah menurut proses berpikir rasional adalah: a) menyatakan masalah, b) menganalisis situasi, c) memikirkan pemecahan masalah yang kira-kira mungkin dapat dilaksanakan dan d) menguji kebenaran dan ketepatan atau disebut juga pengambilan keputusan atau pemecahan masalah (Hutabarat, dalam Wahid, 2005).
Peranan Teknologi Komputer dalam Pembelajaran
Di negara-negara maju penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran telah berkembang secara pesat. Terkait dengan teknologi, Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan mensistem untuk memecahkan masalah. Sedangkan Iskandar merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang teknologi yaitu cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera, dan otak manusia (Soetjipto, 2001).
Salah satu bentuk teknologi dalam hal ini misalkan komputer dengan berbagai macam paket program software pembelajarannya. Heinich, dkk. (dalam Pribadi, 2004) mengemukakan sejumlah kelebihan penggunaan media komputer dalam pembelajaran. Komputer memungkinkan mahasiswa belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya dalam memahami pengetahuan dan informasi yang ditayangkan. Penggunaan komputer dalam proses belajar membuat mahasiswa dapat melakukan kontrol terhadap aktivitas belajarnya. Komputer dapat menciptakan iklim belajar yang efektif bagi mahasiswa yang lambat (slow leaner), akan tetapi juga akan memacu efektivitas belajar bagi mahasiswa yang lebih cepat (fast leaner).
Wang, dkk (2002) mengatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan komputer dapat memberikan inspirasi mengenai kompetensi. Penggunaaan teknologi dalam pembelajaran adalah sangat penting, akan tetapi penggunaan komputer saja tanpa bantuan dosen kurang bermanfaat terutama bagi mahasiswa yang berkemampuan rendah.
Metode Penelitian
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang yang mengambil mata kuliah Database sejumlah 34 mahasiswa. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian Pre-test Post-test One Group Design, dengan harapan dapat mengetahui pola pertumbuhan kecakapan berpikir mahasiswa melalui pengembangan model pembelajaran berbasis masalah dan komputer
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumenter, observasi, dan tes. Sedangkan untuk penganalisisan digunakan analisis kuantitatif dengan statistik non parametrik yaitu dengan uji Wilcoxon Match Pairs Test (Sugiyono, 2005: 131). Uji ini untuk mengetahui perbedaan antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Kedua nilai, yaitu sebelum dan sesudah perlakuan dibandingkan dan dianalisis. Temuan dari perbandingan dua sampel yang berhubungan, diartikan sebagai sebuah sampel subjek yang sama yaitu peserta sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Penyusunan statistik ini didasarkan atas pertimbangan bahwa asumsi statistik tidak dipenuhi, sehingga dengan menggunakan uji Wilcoxon diharapkan dapat diketahui perkembangan kecakapan berpikir rasional mahasiswa, yang hasilnya akan ditemukan dalam pembahasan.
Hasil dan Pembahasan
Dalam pelaksanaan penelitian, kegiatan perkuliahan dirancang agar mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir rasional yaitu mampu memahami dan membentuk pendapat, mengambil keputusan sesuai dengan fakta dan premis, serta memecahkan masalah secara logis. Aktivitas yang dilakukan mahasiswa dalam rangka mengembangkan kemampuan berpikir rasionalnya adalah: mereka a) menyatakan masalah, b) menganalisis situasi, c) memikirkan pemecahan masalah yang kira-kira mungkin dapat dilaksanakan dan d) menguji kebenaran dan ketepatan atau disebut juga pengambilan keputusan atau pemecahan masalah terhadap permasalahan atau kasus basis data yang diberikan.
Dalam pelaksanaan penelitian dibagi menjadi 3 (tiga) langkah seperti: (1) pre-test bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan awal yang dimiliki mahasiswa sebelum diberi perlakuan. Hasil yang diperoleh mahasiswa untuk pre-test adalah sebanyak 16 mahasiswa atau sebesar 47,06% memperoleh nilai rendah yaitu 20, sedang nilai tertinggi adalah 100 hanya diperoleh seorang mahasiswa saja. (2) pengembangan materi pelajaran dan praktik dilakukan setelah diketahui kemampuan awal mahasiswa yang diperoleh dari hasil pre-test. Segala bentuk kekurangan yang ditemui sebagai hasil awal penelitian, akan dilakukan perbaikan dan dikembangkan sesuai keinginan mahasiswa. Nilai mean hasil pre-test sebesar 41,18. Hal ini menunjukkan bahwa kecakapan berpikir rasional mahasiswa dalam menyelesaikan masalah masih rendah. Dengan demikian dilakukan penambahan dan pendalaman tentang beberapa materi teori dan praktik seperti: pemahaman konsep dasar basis data; pemberian kasus/persoalan tentang database yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari seperti: database akademik, penerbangan pesawat, perusahaan, bioskop, rental CD, apotek dan contoh yang lain; pemecahan kasus secara konseptual dengan menggunakan pemahaman operasi relasional aljabar; penyelesaian masalah dengan komputer menggunakan perangkat lunaksebagai alat bantu, dalam hal ini digunakan Xampp for Window. Kasus yang diselesaikan dengan konseptual ditransformasikan ke dalam bahasa SQL dan diaplikasikan ke dalam komputer, sehingga mahasiswa tidak hanya sekedar membayangkan hasil dari operasi sintak SQL, namun dapat secara nyata mengetahui hasilnya. (3) pelaksanaan tes akhir (post-test) yang bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan berpikir rasional yang dimiliki mahasiswa setelah diberi perlakuan. Dari hasil analisis, rata-rata nilai mahasiswa setalah diberi perlakuan sebesar 88,68. Mahasiswa yang memperoleh nilai tertinggi yakni 100 ada sebanyak 23 mahasiswa atau sebesar 67,65%.
Secara keseluruhan respon mahasiswa terhadap pembelajaran menggunakan model pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah dan komputer yang dikembangkan adalah positif.
Berdasarkan hasil pre-test, tampak bahwa kemampuan berpikir mahasiswa masih sangat rendah. Mahasiswa masih sulit untuk memahami dan menyelesaikan masalah basis data yang diberikan. Dari hasil pengamatan, tampak mahasiswa masih belum terbiasa untuk menyelesaikan persoalan database yang notabene banyak mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, setiap saat dosen mengajukan pertanyaan mahasiswa cenderung pasif dan ada yang bermain sendiri dengan komputer. Hal ini mungkin karena mahasiswa terbiasa hanya mendengarkan dan menerima materi saja saat perkuliahan.
Pada akhir penelitian dilakukan evaluasi (post-test) dengan menggunakan soal yang sama dengan mengganti sedikit variabel basis data. Dari hasil evaluasi menunjukkan ada peningkatan hasil belajar mahasiswa. Hal ini karena mahasiswa sudah dibiasakan untuk melakukan analisis pemecahan masalah. Mahasiswa sudah mulai menyatakan masalah, kemudian menganalisisnya, lalu memikirkan pemecahan masalah yang kira-kira mungkin dapat dilaksanakan dan berikutnya mahasiswa menguji kebenaran dan ketepatan pemecahan masalah terhadap permasalahan atau kasus basis data yang diberikan dengan komputer sebagai alat bantu. Dengan demikian mahasiswa mendapat gambaran yang tidak hanya konseptual/abstrak tetapi secara nyata dapat dilihat dari hasil yang diharapkan dari soal yang diberikan tersebut.
Berdasarkan analisis uji Wilcoxon diperoleh bahwa nilai z = 4,739. Dari tabel angka z = 4,739 didapat angka probabilitas adalah 0. yang berarti nilai probabilitas kurang dari 0,05 dengan kata lain Ho ditolak. Jadi terdapat perbedaan yang signifikan antara kecakapan berpikir rasional mahasiswa sebelum dan sesudah diberi perlakuan dengan pendekatan kontekstual melalui Problem Based Learning dan Computer Assisted Learning. Probabilitas ini juga menunjukan bahwa model pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui Problem Based Learning dan Computer Assisted Learning efektif.
Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: (1) Kasus-kasus yang dapat dijadikan latihan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir rasional adalah kasus-kasus yang terkait dengan database yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan sering dijumpai oleh mahasiswa seperti: database akademik, koperasi simpan pinjam, jadwal penerbangan pesawat, bioskop, rental CD, apotek dan contoh yang lain yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. (2) Terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata kemampuan berpikir rasional mahasiswa sebelum dan sesudah diberi perlakuan dengan pendekatan kontekstual melalui pembelajaran berbasis masalah dan komputer, khususnya dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan database. Hal ini ditunjukkan dari tingkat kemampuan mahasiswa mencari alternatif jawaban dari setiap kasus yang diberikan dan perolehan hasil belajar yang meningkat dari 41,18 menjadi 88,68. Jadi model pembelajaran dengan dengan pendekatan kontekstual melalui Problem Based Learning dan Computer Assisted Learning efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir rasional mahasiswa.
Sebagai tindak lanjut dari penelitian ini perlu adanya penelitian lanjutan mengenai penerapan model pembelajaran melalui pendekatan kontekstual melalui pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran berbantuan komputer; berdasarkan hasil penelitian ini dosen yang mengembangkan model pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran berbantuan komputer perlu memperhatikan tingkat perkembangan mahasiswa, saat pembelajaran berlangsung hendaknya memberikan batasan-batasan waktu pada mahasiswa dalam menyelesaikan aktivitasnya.
Daftar Pustaka
_______________. Komputer dan Pendidikan. http://pendidikan.tv/comp.html
Amir Daud, Drs. 2005. Bahan Ajar Diklat 2005: Model-Model Pembelajaran. http://www.bpgupg.go.id/wi/bhn_ajar_diklat/Model-Model_Pembelajaran
Pribadi, B.A,. 2004. Prospek Komputer sebagai media pembelajaran Interaktif dalam Sistem Pendidikan Jarak Jauh di Indonesia. Universitas Terbuka, Vol 8.2
George M. Scott. 1968. Prinsip-Prinsip Sistem Informasi Manajemen. Terjemahan Achmad Nashir Budiman (2004). Jakarta: Rajawali Pers
Nurkaromah D., 2005. Keefektifan Implementasi Pendekatan Pengajaran Kontekstual (problem-based learning, inquiry-based learning, dan project-based learning) terhadap Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Statistika Siswa Kelas II SMP Di Kota. Prosiding Seminar MIPA. Semarang: FMIPA UNNES.
Soedijarto. 1993. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia,
Soendoro H., Haryanto T. 2005. Sistem Informasi Konsep, Teknologi dan Manajemen. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu
Soetjipto. 2001. Kurikulum Pendidikan Teknologi Suatu Kebutuhan yang Tidak Pernah Terlambat. http://www.depdiknas.go.id
Sugiyono. 2005. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Penerbit CV. Alfabeta.
Wahid Umar, Saprudin. 2005. Pembekalan Kecakapan Berpikir (Thingking Skill) mahasiswa Melalui Pengembangan dan Implementasi Model Pembelajaran Pemecahan Masalah Di SMPN 1 Ternate. Prosiding Seminar MIPA. Semarang: FMIPA UNNES.
Waljiyanto. 2003. Sistem database Analisis dan Pemodelan Data. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu
Wang, P. dkk. 2002. An Elementary School Mathematics Dynamic Learning System and Its Effects. Proceedings of the International Conference on Computers in Education.
assalamualaikum.
BalasHapussaya sedang proses penyusunan skripsi tentang kecakapan berpikir rasional siswa,dan dosen meminta lembar observasi yang digunakan dari tesis, disertasi tau yang telah di uji validitas.
apakah anda bisa membantu. terima kasih sebelumnya
salam kenal untuk Anonim, bantuan seperti apa yang dapat saya berikan?
BalasHapus