Judul "Membangun Rumah Sendiri atau Membeli Perumahan" mencoba mengawali tulisan dalam blog ini, setelah lama tak terurus. Ingin sekali rasanya punya rumah sendiri. Namun melihat kondisi saat ini, memaksa saya untuk berpikir realistis. Sebagai abdi negara dengan gaji yang tak seberapa, memang harus pintar mengatur keuangan. Salah satunya saat harus memutuskan membangun rumah sendiri atau membeli perumahan. Jika dikalkulasi dengan cara seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, untuk memiliki rumah idaman seperti yang didambakan adalah hal yang mustahil. Karena membangun rumah idaman mungkin butuh waktu lama dan bertahap, dan tentunya butuh dana yang tidak sedikit. Namun saya masih bercita-cita, dan selalu yakin cita-cita itu pasti akan terwujud, Amin.



Dari hasil perenungan yang sangat lama, saya putuskan untuk membeli perumahan saja. Hari rabu, setelah ngamen di sebuah stasiun TV, saya putuskan tidak langsung kembali ke kantor, tetapi mencari perumahan yang kira-kira lokasinya strategis, dan tentunya dekat dengan kantor. Akhirnya mendapati satu perumahan yang menurut saya lumayan strategis dan dekat kantor. Saya mencoba keliling mengitari area perumahan tersebut, saya pun terpikat. Tanpa berpikir panjang lagi, saya memutuskan untuk menelpon bagian pemasaran perumahan tersebut. Saya membuat janji dengan pihak pemasaran, dan langsung menuju TKP. Saat bertemu dengan bagian pemasarannya, ternyata perumahannya tinggal satu yang belum terjual. Saat itu pula saya memutuskan untuk mengiyakan, dan sorenya setelah pulang dari kantor, saya langsung memberi uang tanda jadi dengan mengajak istri untuk meyakinkan sekaligus meneguhkan keputusan saya. Alhamdulillah, istri mendukung sekali.

Beberapa kali saya ke bagian pemasaran ditemani istri. Pada saat akan memberi uang muka, bagian pemasarannya menginformasikan kepada kami, jika diperumahannya yang lain ada satu kapling yang dibatalkan untuk dibangun. Kebetulan kapling perumahan yang ini (berbeda dengan perumahan yang pertama) memiliki spesifikasi yang lebih baik dengan sebelumnya dan lokasinya juga jauh lebih strategis, yaitu sebelum perumahan yang pertama tadi, dan lokasinya tidak jauh dari jalan raya. Tentu saja harga yang ditawarkan berbeda. Ada tawaran menarik, kenapa tidak diambil, pikirku. Melalui diskusi yang matang dengan istri, akhirnya kami memutuskan untuk membeli perumahan yang kedua. Pihak pengembang juga mempersilakan kami untuk mendesain rumah kami sendiri, jadi keinginan untuk mendesain rumah sendiri terwujud juga. Alhamdulillah. Semoga rumah idaman itu segera bisa ditempati.